Lebih dari kata-kata….
Mungkin hal itu yang ingin kusampaikan kepada kalian keluargaku. Aku ingin merasakan kasih sayang seperti yang kulihat dari keluarga lain. Bukan hanya dari omongan yang kalian sampaikan kepadaku untuk menyayangi sesama saudara. Karna diri ini terlalu lelah untuk mencobanya… Mencoba dan terus bertahan….. Tapi, kebahagiaan yang kuharapkan tidak kunjung datang malah semakin menjauh…
Telah lama diriku bertahan dalam keadaan seperti ini wahai keluarga tercinta. Menahan sakit di dalam hati. Terkadang perasaan ini ingin kukeluarkan, tapi apalah daya diriku ini. Aku mencoba untuk menyayangi sidik seperti yang kalian inginkan. Tapi… apa balasan dari dia? dia hanya menganggapku sebagai sampah. Aku juga mencoba untuk menjadi orang yang terbaik untuk kalian, tetapi apa yang aku coba lakukan sama sekali tidak mendapatkan perhatian sedikitpun. Kalian hanya memperhatikan sidik…. sidik…. dan sidik…. Setiap hari hanya dia, tidak ada yang lain…
Memang diriku hanya seseorang yang tidak sempurna dari segi fisik dan berbeda dari saudara yang lain. tapi apa tidak boleh aku merasakan kasih sayang, kebebasan memilih dan kebahagiaan dalam hidupku walau itu hanya sedikit saja ?
Aku hanya bisa bertahan ketika sidik, mbak dilah, bang udin dan kalian semuanya menghina, mencaci dan memaki diriku. Aku berfikir ini hanyalah cobaan sejenak dalam hidupku. tapi ternyata semua yang aku fikirkan salah… Hal ini berlanjut terus sampai diriku tidak mampu untuk bertahan lagi. Pernah terbesit dalam pikiranku untuk mengakhiri kehidupan ini, pergi untuk selamanya. Tetapi… perasaan itu sirna karna teman-teman menasehatiku agar aku tidak menyimpan perasaan dendam. Bang Aji, bang Reno, Kak Salman, Kak Virus, Bang Fahmi serta teman-teman yang lainnya yang memberiku nasehat. Tetapi mengapa harus mereka yang bisa mengerti diriku? Mengapa bukan kalian yang merupakan saudara kandungku yang bisa mengertiku.
Untuk mbak dilah yang tercinta, ada yang ingin kusampaikan kepadamu. Ada hal yang ingin tanyakan langsung kepadamu tetapi berani mengatakannya. Mungkin hanya disini bisa kusampaikan. Untukmu mbak, apa dasar yang membuatmu bisa mengatakan bahwa diriku ini seorang banci sehingga sidik juga ikut-ikutan menghinaku seperti itu????? Apa hanya karena aku sering bersama wanita disebut seperti itu? Aku rasa itu wajar karena aku seorang laki-laki yang suka dengan lawan jenisku. Apa hanya karena suamimu seorang POLISI sehingga kamu merasa mempunyai kemampuan untuk mencercaku seperti itu??? Asal mbak tahu perasaan sakit hatiku nggak pernah hilang kepadamu walaupun teman-temanku terus menasehati. Aku mencoba bersabar dan terus bersabar, tetapi kesabaran ini ada batasnya mbak.
Untuk bang udin yang kusayangi. Mengapa diriku harus selalu menjadi bahan untuk engkau marahi? Diri ini sudah berusaha untuk menjadi apa yang kalian inginkan. Sudah habis-habisan untuk menjadi yang terbaik. Kalian inginkan aku berprestasi sudah aku penuhi. Aku belajar mati-matian unruk menjadi yang terbaik di sekolah. Aku sudah berusaha untuk menjadi juara kelas, mendapatkan nilai yang terbaik, menjadi murid yang tidak ada masalah di sekolah, dan mendapatkan nilani yang baik pada UAN kemaren. Tapi,… mengapa aku tidak mendapatkan perhatian??? Hanya sidik..sidik dan sidik saja… Aku muak dengan semua ini wahai saudaraku…. Semua masalah yang terjadi dirumah seakan semuanya menjadi salahku. Aku yang harus selalu mengalah dalam setiap masalah. I’m always be black sheep in home..
Wahai keluargaku, aku hanya ingin merasakan kasih sayang yang selama belum kudapatkan. Ketika diri ini bersama bang fahmi dan keluarganya, hati ini seakan menemukan pecahan yang hilang selama ini…. Menemukan bagian yang selama ini aku cari… Tetapi kalian telah merebutnya kembali. Tanpa sadar kalian membuat mereka menjauhiku dengan hal-hal yang tidak kuketahui… kalian mencoba mendekati mereka dan membuat mereka membenciku…
More than words i want to say to u’re but condition make me affraid to say it…
